Persamaan Matematika Ini Bikin Heboh Dunia Maya
Suatu persamaan matematika yang terkesan sederhana mengundang kegaduhan di dunia maya. Kenapa?
Karena ternyata walaupun dinilai sederhana, pertanyaan 9 - 3 : 1/3 + 1 = ? yang berasal dari Jepang tersebut menimbulkan beragam jawaban dan hanya sekitar 60% orang dewasa yang menjawab dengan benar.Seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (14/5/2016), pilihan jawaban yang ada misalnya angka 3 atau 9. Namun, jawaban atas persamaan tersebut sebenarnya mengacu kepada aturan dasar yang mungkin dipelajari di sekolah dasar, tapi terlupa.
Aturan dasar yang menjelaskan tata urutan operasi matematika yang harus diikuti dalam menyelesaikan soal ini disingkat, BODMAS. Inilah cara penyelesaian yang benar:
Dalam bahasa Inggris, BODMAS adalah singkatan dari brackets, others, division and multiplication, lalu addition and subtraction. Artinya, mulai dengan tanda kurung, lalu pembagian dan perkalian, lalu penambahan dan pengurangan.
Dengan menggunakan aturan itu, kita pertama harus membagi angka 3 dengan pecahan 1/3 sebelum lanjut ke bagian lain.
Cara mudah membagi angka 3 dengan pecahan 1/3 dilakukan dengan mengikuti aturan lain yang dulu diajarkan, yaitu dengan menjungkirbalikkan pecahan itu menjadi perkalian. Dengan demikian, didapatlah 3 x 3 = 9.
Persamaan itu kemudian menjadi 9 - 9 + 1, yang memberikan jawaban yang benar, yaitu 1.
Ingat, penambahan dan pengurangan memiliki prioritas yang setara, sehingga persamaan ini diselesaikan dengan bergerak dari kiri ke kanan.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika membagi 3 dengan 1, yaitu 3 : 1. Harusnya, pembagian 3 : 1/3.
Berikut ini adalah kesalahan yang sering dilakukan:
Persamaan Matematika Ini Bikin Heboh Dunia Maya
Sekolah Masih Pelit Beri Penghargaan pada Anak
Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Sukiman mengatakan selama ini sekolah pelit dalam memberi penghargaan pada anak.
"Misalnya anak terpilih sebagai ketua kelas, seharusnya guru mengirimkan pesan singkat atau SMS pada orang tua yang berisi ucapan selamat pada orang tua tersebut," ujar Sukiman dalam diskusi di Jakarta.Kenyataannya, selama ini sekolah hanya berinteraksi dengan para orang tua ketika kenaikan kelas atau pembagian rapor. Selain itu, nyaris sama sekali tidak terjadi interaksi.
Begitu juga ketika anak mendapatkan nilai bagus di sekolah, guru juga hendaknya mengabari orang tua anak tersebut mengenai pencapaian tersebut. "Misalnya ucapan selamat, anak ibu terpilih secara aklamasi sebagai ketua kelas ataupun selamat anak ibu mendapatkan nilai 100," papar dia.
Menurut dia, perlu ada perubahan terhadap hal itu. Sekolah harus membangun interaksi dengan para orang tua, begitu juga dengan orang tua perlu jangan hanya melepas begitu saja pada sekolah.
Tidak semua orangtua, menurut Sukiman, terlibat langsung dalam pendidikan anak-anak mereka di sekolah. Saat ini hampir semua urusan sekolah diselesaikan pihak ibu. Idealnya sebagai keluarga, baik ibu dan ayah harus berbagi peran. Kedua orangtua juga harus lebih aktif dalam mencari tahu tentang sekolah anaknya, bukan sekadar hasil rapor.
"Orang tua jangan sekadar mengantar anak ke sekolah, tetapi perlu ada diskusi dengan guru," papar dia.
Sementara itu, penasihat senior ACDP Indonesia, Totok Amin Soefijanto, mengatakan salah satu nilai kehidupan yang diajarkan di keluarga adalah integritas dan kejujuran.
"Seharusnya, penanaman nilai-nilai kejujuran sudah selesai di ranah keluarga sebelum seorang anak masuk sekolah. Kenyataannya tidaklah demikian," ujar Totok. Untuk itu, lanjut Totok, perlu adanya interaksi yang baik antara guru dan orang tua.
Sekolah Masih Pelit Beri Penghargaan pada Anak
Anak-anak Ini Panjat Tebing Curam Setinggi 800 Meter demi Sekolah
Hanya ada satu cara bagi anak-anak di Desa Atuler, Provinsi Sichuan, China
untuk berangkat dan pulang sekolah, yaitu dengan memanjat tebing
setinggi 800 meter. Tindakan berbahaya itu terpaksa mereka lakukan tanpa
peralatan keamanan.
Sejumlah foto yang menunjukkan perjuangan
anak-anak di Desa Atuler itu beredar secara viral di dunia maya China
setelah sepekan sebelumnya dimuat oleh sebuah surat kabar setempat.
Foto-foto milik Chen Jie memotret sejumlah anak yang memanggul ransel
tengah mendaki tangga reyot di tebing curam. Beberapa dari anak itu
kabarnya berusia 6 dan 15 tahun.
"Tak diragukan lagi saya
terkejut dengan adegan yang saya lihat di hadapan saya," ujar Chen Jie
melalui akun WeChat seperti dikutip The Guardian, Jumat (27/5/2016).
Chen Jie berharap, foto-fotonya itu dapat membantu mengubah 'realitas yang menyakitkan' di Desa Atuler.
Menanggapi
beredarnya foto-foto ini, pihak berwenang di barat daya Tiongkok
berjanji akan memberikan bantuan pada desa terpencil yang terletak di
pegunungan itu.
Sekretaris Partai Komunis di wilayah itu mengatakan sebuah tangga baja akan dibangun untuk menghubungkan desa terpencil itu dengan dunia luar.
Ketua
komunitas yang beranggotakan 72 anggota, Api Jiti mengatakan kepada
media pemerintah, bahwa di puncak gunung telah terdapat sebuah sekolah
yang cukup layak bagi anak-anak setempat. Namun bahayanya sangat jelas.
"Tujuh
atau delapan penduduk desa tewas dalam upaya memanjat tebing setelah
cengkeraman mereka lepas, sementara banyak juga yang terluka," jelas Api
Jiti.
Seiring dengan mulai terbukanya ekonomi China
pada 1980-an, sekitar 680 juta warga negara itu telah mengalami
peningkatan taraf hidup. Beberapa di antara mereka bahkan tercatat
sebagai orang kaya baru di Negeri Panda itu.
Namun masih banyak
juga warga yang hidup di garis kemiskinan, khususnya yang tinggal di
wilayah pedesaan. Seperti di Atuler misalnya, di mana warga di desa itu
dilaporkan hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 1 atau setara dengan
Rp 13.570.
Tak hanya di China, namun sejumlah daerah di Indonesia juga pernah
mendapat sorotan media asing terkait dengan rute sekolah berbahaya yang
harus ditempuh para siswa-siswi. Daerah pertama yang menjadi sorotan
adalah Desa Sanghiang di Lebak, Banten.
Media Inggris, Daily Mail
pada Januari 2012 pernah memuat laporan, anak-anak sekolah terpaksa
menyeberangi sebuah jembatan rusak di desa itu untuk bisa sampai ke
sekolah. Aksi anak-anak sekolah yang menyeberangi jembatan gantung itu
disebut mirip sebuah adegan dalam film Indiana Jones.
Adegan mirip Indiana Jones juga terjadi untuk kedua kalinya di Desa Sumua Bana, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Media Inggris The Sun, bahkan menulis 'Is this the most dangerous school run in the world?' sebagai tajuk beritanya.
Anak-anak Ini Panjat Tebing Curam Setinggi 800 Meter demi Sekolah
Cerita Para Ayah Antar Anak pada Hari Pertama Sekolah
Hari pertama sekolah di
Palembang, Sumatera Selatan menjadi pemandangan menarik. Sebab,
orangtua murid yang mengantar didominasi para ayah yang antusias hadir
di hari pertama anaknya bersekolah.
Seperti Rudi Irawan, warga
Jalan Betawi, Kecamatan Sematang Borang, Palembang ini bahkan rela ambil
cuti satu hari demi mengantarkan anaknya pertama kali masuk sekolah.
"Saya sengaja off kerja hari ini, khusus untuk mengantarkan anak kedua saya pertama kali masuk sekolah.
Saya berbagi tugas dengan istri yang juga mengantarkan anak pertama
masuk sekolah di sekolah yang berbeda," ungkap dia, Senin (18/7/2016).
Rudi
mengantar anaknya masuk ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 121, di Jalan
Betawi Raya Kecamatan Sematang Borang, Palembang. Anaknya pun semangat
untuk memulai hari pertama. Terlebih, Rudi memang meluangkan waktu untuk
menunggu sang anak hingga jadwal kegiatan belajar mengajar (KBM)
pertama habis.
Rian (34), warga Jalan Sersan Sani, Kecamatan Kemuning Palembang ini
juga meluangkan waktunya untuk mengantarkan anak pertamanya,Thuraya Nur
Medina, untuk masuk sekolah pertama kali di Sekolah Dasar (SD) Persit
Kartika III, Sekip Ujung Palembang.
"Anak saya maunya diantar
sama kedua orangtuanya. Kalau tidak, dia tidak mau sekolah. Saya juga
semangat mengantarkan anak pertama saya sekolah, ada rasa bangga melihat
anak saya sudah besar dan bersekolah," ucap dia.
Sementara itu,
Adi Norman, warga Jalan Banten 6, Kecamatan Seberang Ulu II Palembang
ini bahkan selalu rutin mengantarkan anaknya masuk sekolah.
"Kalau
anak saya sudah kelas 3 di SDN 97 Palembang. Hari ini, saya dan istri
saya yang mengantar sekolah. Saya juga mengecek langsung ruang kelas
mana dan siapa wali kelas yang akan mengajar di kelas anak saya," kata
dia.
Cerita Para Ayah Antar Anak pada Hari Pertama Sekolah
Dilema Pendidikan Formal dan Masa Depan Orang Rimba
Berdasarkan catatan dan pendataan KKI Warsi Jambi 2010 lalu, populasi Orang Rimba Jambi mencapai hampir 5.000 jiwa.
Keberadaannya menyebar di beberapa kawasan hutan di daerah itu seperti TNBD (1.700 jiwa), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) (500 jiwa) dan sebagian lainnya berada di sepanjang jalur lintas Sumatra sekitar 1.500 jiwa.Keberadaan warga Rimba makin terdesak oleh pembukaan lahan baik secara perorangan maupun perusahaan. Tak jarang, beberapa kali terjadi konflik antara kelompok orang rimba dengan masyarakat maupun perusahaan. Maka itu, mereka membutuhkan pendidikan sebagai penyangga kehidupan.
Kemampuan Anak Rimba menyerap pendidikan tidak kalah dari anak-anak di luar hutan. Sasa, salah satu fasilitator pendidikan KKI Warsi yang ada di kawasan TNBD mengatakan, Beteguh merupakan salah satu Anak Rimba yang memiliki kemampuan akademik menonjol di sekolahnya.
Sejak berada di tingkat SD, Besudut kerap mendapat ranking 1 dan menerima berbagai penghargaan di sejumlah perlombaan.
Karena kemampuannya yang menonjol, Beteguh dijadikan kader pendidikan (guru rimba) bagi sedikitnya 50 anak rimba yang tinggal di dalam hutan TNBD.
Meski begitu, untuk mengajak anak-anak Rimba bisa belajar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.
"Anak Rimba tidak bisa dipaksa atau disanksi seperti anak pada umumnya, mengingat kebiasaan anak Rimba hidup bebas di dalam hutan. Untuk itu, kami selalu memberikan masukan dan bujukan bagaimana pentingnya sekolah untuk kehidupan yang akan datang," jelas Sasa.
Ia menyebutkan, dalam proses pendampingan KKI Warsi selama kurang lebih 15 tahun, sudah ada sekitar 400 anak-anak Rimba Jambi yang sudah bisa membaca dan menulis.
Proses itu menunjukkan perjuangan keras yang harus dijalani mengingat adat istiadat kerimbaan yang sangat melekat dan dipegang teguh masyarakat Rimba.
Untuk itu, Sasa berharap pemerintah lebih memperhatikan hak anak-anak rimba untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Meski sudah tersedia fasilitas belajar berupa kelas jauh atau sekolah satu atap, khususnya di Pemkab Sarolangun, jumlahnya masih belum cukup. Begitu pula dengan jumlah tenaga pendidik Anak Rimba.
"Begitu juga dengan metode ujian nasional. Sebagian besar anak-anak Rimba kesulitan dalam memahami soal karena kendala bahasa. Kami ke depan akan mendorong adanya metode bahasa soal UN bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Rimba," kata Sasa.
Dilema Pendidikan Formal dan Masa Depan Orang Rimba
Warga Perbatasan di NTT Cari Sinyal Ponsel di Atas Pohon
Masyarakat Amfoang Timur di Kabupaten Kupang,
Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan dengan wilayah kantung
(enclave) Timor Leste, Oecusse harus memanjat pohon untuk mendapatkan
sinyal dari operator langganannya ,Telkomsel.
"Di wilayah Amfoang
Timur belum ada tower BTS (Base Transceiver Station) sehingga untuk
berkomunikasi lewat telepon selular, kami harus panjat pohon dulu," ujar
Camat Amfoang Timur Anisitus Kase di pusat pemerintahan Kabupaten Kupang di Oelamasi, seperti dikutip dari Antara, Senin (15/8/2016).
BTS
merupakan suatu elemen dalam jaringan seluler (cell network) yang
berperan penting sebagai pemancar dan penerima sinyal dari handphone
pengguna (MS/mobile station).
Sebagian besar wilayah perbatasan
Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste belum terpasang BTS
sehingga untuk berkomunikasi lewat telepon seluler harus memanjat pohon
untuk mendapat sinyal dari operator.
Masyarakat di wilayah
perbatasan yang menggunakan telepon genggam, umumnya terkena roaming
internasional dari Timor Telkom, operator milik Timor Leste, baik
roaming panggilan, SMS (layanan pesan singkat) maupun roaming data. Untuk menghindari terjadinya roaming internasional, masyarakat di
perbatasan RI-Timor Leste, seperti di Amfoang Timur itu terpaksa harus
panjat pohon atau mendaki wilayah perbukitan agar bisa mendapatkan
sinyal dari Telkomsel Indonesia.
"Kami tidak hanya mengalami
persoalan komunikasi, tetapi juga infrastruktur jalan dan jembatan,
sehingga masyarakat kami benar-benar merasa belum merdeka, padahal
Indonesia tahun ini sudah 71 tahun merayakan kemerdekaannya," ujar Camat
Anisitus Kase.
Dia mempertanyakan adanya prioritas pembangunan
di wilayah perbatasan negara yang terus dikumandangkan oleh pemerintah
pusat, tetapi sampai sekarang bias pembangunan belum juga sampai ke
tapal batas.
Sementara itu, Trainus Kameo, salah seorang warga
Naikliu di wilayah Amfoang Timur, juga mengaku kesulitan untuk bisa
berkomunikasi melalui telepon genggam selama berada di Naikliu, Kupang, karena tidak ada jaringan BTS di sana.
"Masalah
komunikasi menjadi persoalan di Amfoang Timur, sekalipun satu tower BTS
milik Telkomsel sudah dibangun di sana sejak tahun 2015, namun tidak
berfungsi sampai sekarang," tutur Trainus.
"Kalau tower itu sudah
berfungsi maka kami tidak mungkin lagi memanjat pohon atau mencari
daerah ketinggian untuk mencari sinyal Telkomsel Indonesia," ujar dia.
Ia mengatakan, sinyal dari Telkom Timor milik Timor Leste cukup kuat, namun konsekuensinya harus terkena roaming internasional.
"Sekali
SMS, Rp 3.000 langsung lenyap, apalagi telepon. Isi pulsa Rp 100.000
langsung ludes dalam waktu seketika," keluh Trainus.
Warga Perbatasan di NTT Cari Sinyal Ponsel di Atas Pohon
3 Kunci Kemenangan Tontowi / Liliyana
Tontowi/Liliyana tampil baik dan penuh percaya diri di pertandingan semifinal Olimpiade Rio 2016. Susul menyusul angka terjadi sejak game pertama dimulai. Tontowi/Liliyana unggul 7-4 dari Zhang/Zhao. Kedudukan sempat imbang 14-14, namun kemudian pasangan Indonesia tersebut terus melaju 18-15 hingga menang 21-16.
Masuk ke game dua, Tontowi/Liliyana terus menekan dengan unggul 5-0 di awal. Tontowi/Liliyana kemudian unggul lagi hingga interval dengan 11-8.
Pertandingan sempat menegang ketika Zhang/Zhao mencoba menyusul perolehan angka jadi 12-12. Namun perlahan tapi pasti, Tontowi/Liliyana pun membuat jarak poin, mereka unggul 17-14. Tontowi/Liliyana menang 21-15 setelah pengembalian Zhao yang melebar meninggalkan lapangan.
“Saat sudah unggul, saya enggak berpikir tentang menang. Poin 20 juga saya berpikir masih banyak poin. Saya cuma berpikir poin poin poin saja. Pas lihat angka 20 juga, saya enggak tahu siapa yang 20. Pokoknya fokus saja dulu. Bola masuk saja dulu, kami bikin poin,” ungkap Tontowi.
“Permainan tadi cukup ketat, tapi kami enggak memikirkan poin sudah berapa leading atau ketinggalan. Kami tetap fokus poin satu persatu,” tambah Liliyana lagi.
Di final Tontowi/Liliyana akan berhadapan dengan pasangan Malaysia, Chan Peng Soo/Goh Liu Ying. Chan/Goh melaju ke final usai mengalahkan pasangan Tiongkok, Xu Chen/Ma Jin, 21-12 dan 21-19.







